BANDUNG, G-SPORTS.ID – Apalah artinya juara PORPROV tidak lengkap kalau sepakbolanya tidak juara. Atau meskipun tidak juara PORPROV paling tidak sepakbolanya bisa juara karena dari sepakbola mengikut gerakan emosi masyarakat.
Begitu Walikota Bandung, Muhammad Farhan berpesan saat memberikan sambutan pada Kongres Biasa PSSI Kota Bandung 2025 yang berlangsung di Grand Pasundan Convention Hall, Minggu (23/2/2025).
Untuk pertama kalinya sejak terpilih menjadi Walikota Bandung, Muhammad Farhan hadir di tengah – tengah komunitas sepakbola momennya pada Kongres Tahunan PSSI Kota Bandung yang dihadiri 36 Perkumpulan Sepakbola (Ps).
Farhan menyebut bahwa sepakbola magnet paling ampuh dalam mencairkan masalah dalam situasi apapun dan dimana pun.
“Contoh kecil, saat program keliling di Kota Bandung untuk menyelesaikan masalah banjir dan korbannya selama delapan hari ini, kesedihan langsung berubah menjadi keceriaan ketika saya mengatakan bismillah saja banjir datang, tapi Persib juara, masyarakat langsung sorak,” ujar Farhan menungkapkan.
Pada kesempatan tersebut, Farhan pun menyampaikan kabar gembira dari hasil pertemuan Ketua Umum PSSI dan Wakil Menteri Dalam Negeri untuk masa depan klub-klub amatir khususnya di Kota Bandung.
“Ada pesan dari Ketua Umum PSSI dan Wakil Mendagri bahwa agar segera mempersiapkan klub-klub amatir di Kota Bandung, karena kata mereka segera akan mulai menggodok kemungkinan akan dikeluarkan keputusan pemberian anggarannya dan saat ini sedang membuat kajiannya jumlah klub amatir dalam kerangka liga apa saja di sepakbola Indonesia,” kata Farhan memaparkan.
Meski begitu katanya, mekanisme termasuk nilainya belum diketahui. Akan tetapi yang pasti, lanjut Farhan, tapi ukurannya harus dalam Liga, Liga di Jawa Barat dan pesertanya klub amatir tidak boleh ada profesional.
“Jadi, apakah akan melalui klub yang di Askot atau Asprov atau klubnya masing-masing kita belum tahu,” katanya menambahkan.
Tetapi, apa pun yang akan terjadi nanti, Farhan pun menyampaikan beberapa arahan penting lainnya yang dinilainya wajib diketahui dan menjadi pegangan masyarakat sepakbola.
Pertama, perhatikanlah tata kelolanya atau governance. Pastikan, siapa yang layak mendapatkan hibah harus mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Lalu, rekening Bank.
“Kalau pribadi atas nama pribadi. Kalau ternyata nomor rekeningnya nama perkumpulan maka nama rekeningnya harus atas nama perkumpulan dan kalau datangnya dari Dispora agar tidak dipanggil jaksa maka kita saling membantu,” katanya menguraikan.
Ke depan Farhan berharap, bahwa dana hibah untuk klub atau liga sepakbola tidak ada hubungannya atau berorientasi politik dirinya saya sebagai walikota.
“Karena apa, karena sepakbola bukan alat politik dan PSSI bukan partai politik,” katanya menegaskan.
Menurutnya, apa yang disampaikannya itu merupakan ungkapan dan sebuah ajakan serta kerja sama kepada seluruh pengurus PSSI Kota Bandung agar bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung dalam hal ini pengampunya Dispora.
“Artinya, untuk membangun sebuah chemistry yang tertuju pada konsep dan kajian yang akan saya ajukan segera kepada Dispora Provinsi dan kemendagri supaya pencairannya turun dan ketika ditetapkan harus begitu kita sudah siap,” kata dia menambahkan lagi.
Lalu arahan lainnya agar terciptanya soliditas sebagai bagian dari PSSI yang sangat dipentingkan saat ini terutama oleh PSSI yang sekarang sekarang sedang diuji di mata masyarakat.
“”Ini menyusul kekalahan Timnas kita dari, 1-5 Australia dengan pelatih baru tentu saja membuat posisi kita menjadi sangat krisis. Mari solid, sebagai warga Bandung tentu ingin PORPROV 2026 dimenangkan oleh Kota Bandung. Insya Allah kita bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung melalui sepakbola kota Bandung,” kata Farhan.
Terkait Kongres PSSI Kota Bandung, ia berharap, bisa memberikan peluang yang lebih besar kepada para anggota PSSI Kota Bandung untuk melihat kemungkinan ke depan meningkatkan kualitas dan jumlah kuantitas serta menghidupkan kembali 36 Ps di Kota Bandung.
“Karena mereka sebagai jantung, darah dan nyawa sepakbola di Kota Bandung,” katanya memungkasi.***
