MALANG, G-SPORTS.ID – Tugas tak ringan, suka atau tidak suka harus dihadapi pelatih baru Arema FC, Joko Gethuk Susilo dalam sisa sembilan laga kompetisi BRI Liga 1 2022/2023. Dia resmi menggantikan pelatih caretaker sebelumnya, I Putu Gede Dwi Santoso per tanggal 9 Maret 2023 lalu.
Tiga pekan kehadiran di internal tim, pelatih kelahiran Cepu (Jawa Tengah), 9 Desember 1970 tersebut mulai bukan-bukaan. Disebutnya tidak mudah menukangi tim Singo Edan dalam kondisi force majeure. Kondisi mental-psikis para pemain disebutnya sebagai salah satu faktor utama yang membuat perfoma tim masih belum stabil.
“Saya baru merasakan sendiri, setelah ada di dalam tim sebagai pelatih. Mengapa sejauh ini performa Arema masih relatif belum stabil atau pasang surut. yang saya lihat, tim dan para pemain masih belum bisa konsisten dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya,” ujar pelatih yang akrab disapa Gethuk itu via pesan WhatApp-nya, kepada G-Sports.id (25/3/2023).
Menurutnya, masalah utamanya justru ada pada sisi non teknis atau mental-psikis pemain. Mereka belum sepenuhnya membaik pasca Tragedi Kanjuruhan. Ia menilai kondisi force majeure tersebut, tentu saja menjadi tidak mudah bagi pelatih-pelatih sebelumnya dan kini dirinya yang menghadapi langsung.
“Mereka, secara tim dan para pemain masih sangat membutuhkan suntikan moril dan motivasi. Ini tentu tugas sekaligus tantangan tidak ringan bagi kami tim pelatih dan manajemen. Saya pikir ini PR yang juga tak ringan bagi pelatih sekaliber apapun.”.
Joko Gethuk melihat, secara psikologis seakan para pemainnya masih dihinggapi beban mental-psikis pasca Tragedi Kanjuruhan. Lantaran mereka juga adalah saksi mata yang melihat langsung, bahkan ikut serta menggotong para korban. Kondisi yang dalam disiplin ilmu psikologi disebut sebagai sindrom PTSD (post-traumatic stress disorder). Atau gangguan stres pasca trauma yang muncul setelah mengalami atau menyaksikan sebuah peristiwa memilukan.
Sederet kendala non teknis memang terus mendera Johan Ahmad Alfarizi dan kawan-kawan dalam kompetisi musim ini. Terutama pasca Tragedi Kanjuruhan yang memakan korban tewas 135 Aremania-Aremanita, di Stadion Kanjuruhan.
Insiden berdarah yang terjadi pasca usainya laga pekan ke-11 laga Arema FC kontra tamunya Persebaya Surabaya (1/10/2022) silam yang ditatap 42.588 orang penonton.
Duka cita masih memayungi tim dan para pemain. Justru Komdis PSSI langsung dalam surat bernomor 061/L1/SK/KD-PSSl/X/2022 (4/10/2022) memberikan hukuman berat kepada Arema FC.
Larangan menyelenggarakan 11 pertandingan kandang dan tanpa penonton alias tertutup. Digelar di tempat yang berjarak minimal 250 (dua ratus lima puluh) kilometer dari Malang dan berlaku sampai kompetisi selesai. Bahkan Komdis PSSI juga jatuhkan sanksi denda sebesar Rp.250 juta
Tim juga harus menerima kenyatakan pahit. Ditinggal mundur sang Presiden Klub, Gilang Widya Pramana (29/10/2022) dan Manajer tim Muhammad Ali Rifky serta gerbong mereka J99 Media.
Berselang, manajemen dan tim juga seakan kehilangan kepercayaan dari para pendukung setianya selama ini, Aremania-Aremanita.
Dalam perjalanannya di sisa 23 laga musim ini, Arema FC juga kembali menghadapi handicaps lainnya yang tak kalah peliknya. Tiga laga berstatus kandang harus tertunda. Sebab, manajemen tak kunjung mampu mendapatkan homeground atau homebase pinjaman.
Kehadiran Johan Ahmad Alfarizi dan kawan-kawan tak direstui di kawasan Jawa Tengah dan DI Yoyakarta. Ditolak oleh pemerintah daerah dan komunitas sepak bola di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.
Baik Stadion Sultan Agung (Bantul), Stadion Jatidiri (Semarang), Stadion dr. H. Moch. Soebroto (Magelang), maupun Stadion Kebo Giras (Boyolali).
“Tapi jujur saja, saya acungkan jempol dan salut kepada para pemain. Dua minggu bersama tim, saya melihat mereka selalu mempunyai tekad dan motivasi besar berupaya terus bisa keluar dari tekanan atau beban mental,” imbuh alumni AFC Professional Diploma Coaching Certificate Course atau AFC Pro-Diploma tahun 2019 itu.
“Kondisi sesulit apapun yang terjadi pada timnya, mereka tetap loyal dan lebih kedepankan sikap profesional, Ini yang tak dialami para pemain dari 17 tim lainnya Liga 1 musim ini.”.
Mantan striker Arema Malang era 1992-1995 dan 1998-2003 tersebut, berani mengatakan, jika dalam kondisi normal tak ada kendala non teknis. Arema hingga usai laga pekan ke-30 diyakini bisa bersaing di zona tiga besar klasemen papan atas. Bahkan sangat dimungkinkan juara musim ini, atau lolos ke level AFC Champions League atau AFC Cup 2024.
