Rudy William Keltjes, “Der Kaiser Indonesien” Tutup Usia

Noval Lutfianto

23/10/2024

LEGENDARIS : Rudy William Keltjes, “Der Kaiser Indonesien” menghembuskan nafas terakhir di usia 71 tahun, Rabu (23/10/2024) siang di Rumah Sakit William Booth, Jalan Diponegoro, Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. (Foto : Dok. Istimewa)

SURABAYA, G-SPORTS.ID – Rabu tanggal 23 Oktober 2024 pukul 12.30 WIB siang, awan kelabu memayungi dunia sepak bola Indonesia. Libero sekaligus defensive-midfielder legendaris Timnas Indonesia era 1975-1983, Rudy William Keltjes tutup usia, di Rumah Sakit William Booth, Jalan Diponegoro, Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur.

Innalilahi wa innalihi rajiun, rest in peace (R.I.P), selamat jalan sosok yang semasa menjadi pemain melekat dengan julukan “Beckenbauer-nya” Indonesia atau “Der Kaiser Indonesien” itu. Diidentikan dengan legenda libero Timnas Jerman Barat, Franz Anton “der Kaiser” Beckenbauer (1964-1977).

Dari rumah sakit yang berlokasi di kawasan Darmo tersebut, sore harinya, jenazah dibawa pulang di kediaman keluarga besarnya, di Jalan Kupang Jaya, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya.

“Hati dan pikiran kami bersama keluarga dan kerabat terdekat dari mendiang Rudy William Keltjes di waktu yang teramat berat ini. Doa terbaik untuk almarhum,” tulis instagramn PSSI @pssi. Rudy Keltjes menghembuskan nafas terakhir di usia 71 tahun di tengah–tengah keluarga besarnya yang dampinginya di RS William Booth, Jalan Surabaya.

Kelahiran Situbondo 20 Agustus 1953, sebagai pemain Rudy Keltjes awali dengan gemilang. Bersama Sandjoto, Kim Tie, dan Koestarto, membawa PSSS Situbondo Yunior menembus final Piala Soeratin 1972, di Stadion Menteng, Jakarta.

Setelah ungguli Persib Bandung Yunior 2-0 dan PSMS Medan Yunior 1-0. Sebelum akhirmnya takluk 0-2 di tangan Persija Jakarta pada final di Stadion Menteng tanggal 10 September 1972. Rudy Keltjes kemudian malang melintang di sejumlah klub 1972-1983.

Torehan Rudy Keltjes terbaik bersama Persebaya Surabaya, meraih trofi juara Kejurnas PSSI Antar Perserikatan 1975/1978 dan dia menjadi Pemain Terbaik. Laga final (28/01/1977), di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Persebaya ungguli Persija Jakarta 4-3. Dia mencetak gol menit 63, selain Hadi Ismanto (20’, 54’) dan Joko Malis (69’).

Kemudian dengan Niac Mitra, Rudy Keltjes meraih dua tofi juara Galatama II 1980/1982 dan Galatama III 1982/1983. Dia juga ikut mengantar Niac Mitra meraih gelar pada turnamen internasional, Aga Khan Gold Cup 1979, di Dakka, Banglandesh. Final memang 4-2 (1-1) lewat adu penalti (06/12/1979) melawan klub asal China, Liaoning FC.

Rudy Keltjes kemudian hijrah ke Yanita Utama (Bogor) dan melengkapi koleksi trofi gelar juara Galatama IV 1983/1984 dan Galatama V 1984. Selepas itu, dia kembali ke Niac Mitra dan menjadi asisten pelatihnya head coach M. Basri dan raih trofi juara Galatama VIII 1987/1988.

Karirnya sebagai pelatih selain Tim Jawa Timur di PON Papua 2021. Rudy William Keltjes pernah menukangi Persepam-Madura United (Persepam MU) di Liga 2 2017. Sebelumnya sosok berportur 186 sentimeter tersebut, malang melintang disederet klub-klub besar. Liga Indonesia (Ligina) Divisi Utama 1999/2000 tangani Barito Putera dan musim 1999/2000 serta 2001 membesut Persebaya Surabaya.

Rudy William Keltjes juga pernah melatih Persipura Jayapura pada Ligina Divisi Utama 2003. Pelatih kepala PSMS Medan pada Ligina Divisi Utama 2009/2010 dan musim 2010/2011 (kompetisi setingkat di bawah ISL).

Dia juga pernah membesut PSM Makassar pada ISL 2014. Rudy William Keltjes pernah melatih Tim Indonesia U-22 dan U-17. Termasuk terakhir sebagai Direktur Teknis Persikab Kabupaten Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

Berita Terkait

PSF Academy