BANDUNG, G-SPORTS.ID – Elite Pro Academy (EPA) merupakan sistem Liga Sepakbola kelompok usia dengan pengelolanya, PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Sejak pertama kalinya kompetisi tersebut diperkenalkan pada 2018 oleh PSSI yang meliputi tiga kategori yakni, U-16 tahun, 18 tahun dan 20 tahun. Pada setiap kategori penyelenggaraannya menerapkan format kompetisi yang berbeda baik fase grup maupun fase gugur. Pesertanya yaitu pemain junior di setiap klub Liga 1 dan Liga 2.
Secara komprehensif, EPA bertujuan mewadahi pemain muda dalam meningkatkan kualitas dan potensi mereka. Lalu, menyiapkan pemain muda untuk selanjutnya digabungkan dengan tim nasional Indonesia di semua kelompok usia. Terakhir, mengembangkan ekosistem sepakbola yang lebih kuat di Tanah Air.
Tetapi pada pelaksanaannya yang ada justru carut marut. Adanya EPA membuat orang bertanya-tanya. Apa manfaat dari EPA? Belum. sebab dengan adanya EPA akhirnya berdampak kepada kompetisi yang sudah ada, baik itu terhadap Piala Soeratin di seluruh provinsi maupun agenda kompetisi amatir yang telah diputar Askot dan Askab.
Lebih memprihatinkan, tidak sedikit para orang tua pemain harus pontang – panting mencari uang agar anaknya bisa bermain di EPA karena ada sebagian klub yang mematok harga. Yang paling terasa di daerah, kerap terjadi tarik menarik, rebutan pemain dan kejar-kejaran jadwal pertandingan.
Contoh paling sederhana di Jawa Barat pada tahun ini. Ibarat seperti anjing sama kucing yang rebutan tulang. Disatu sisi Askot dan Askab membina pemain, memutar roda kompetisi. Disisi lain, giliran membentuk tim untuk PORPROV atau PORDA para pemain yang terpilih hasil penjaringan yang dilakukan talent scoutingnya justru saling berebut antara untuk, harus EPA atau PORDA.
Bahkan, tidak sedikit klub-klub Liga 1 yang ogah-ogahan untuk ikut serta di EPA, terutama untuk KU-20 tahun. Apalagi klub-klub Liga 2 rumornya semua menolak untuk membentuk tim EPA U-20. Bisa dimaklumi, karena dipastikan akan menyangkut biaya yang tidak sedikit. Dalam hal pemainnya pun tidak semua klub profesional Liga 1 maupun Liga 2 memilikinya. Oleh karena itu, saatnya PSSI Pusat sebagai penggagas maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai pengelolanya berpikir ulang perihal kelangsungan EPA.
Kritik dan Saran untuk Solusi
Terkait dengan itu, Ketua Umum PSSI Kota Bandung, H. Yoko Anggasurya menyarankan, sebaiknya kompetisi Elite Pro Academy dikaji lagi. Pertama, EPA U-20 sebaiknya ditiadakan. Solusinya, EPA U-20 digantikan oleh Liga Amatir U-20 dan diputar setingkat Askot dan Askab terus sampai ke Antarprovinsi.
Sedangkan, untuk penyelenggaraan KU- 13 dan 15 tahun dikembalikan AntarAskot/Askab dan Antarprovinsi serta KU- 17 Antarklub yang diselenggarakan oleh seluruh Asprov sebaiknya digelar sebelum penyelenggaraan EPA agar pemain terbaik pada kelompoknya bisa bermain di tingkat Jawa Barat atau nasional.
Pembina Klub dan SSB SASWCO ini pun yakin, jika semua itu dijalankan, Askot/Askab beserta Asprov se-Indonesia akan bersemangat membangun sepakbola. Yang lain-lainnya seperti Antarsekolah Sepakbola (SSB) serahkan saja kepada pihak ketiga dalam hal ini Even Organizer (EO) untuk difestivalkan sehingga semuanya bisa berjalan.
“Sebaiknya seperti itu. Khusus untuk EPA U-20 tahun lebih baik ditiadakan, diganti oleh kompetisi U-20 antarperserikatan. Formatnya atau sistemnya, dimulai dari antar Askot dan Askab dulu, selanjutnya antarprovinsi. Kenapa, supaya pemain terbaik se-Indonesia bisa tergali potensinya, sedangkan yang sekarang adanya EPA justru pemain-pemain berbakat tidak bisa dan punya kesempatan karena banyak kejanggalan-kejanggalan dalam hal perekrutannya yang tidak sesuai kaidah talent scouting,” kata pria yang akrab disapa Haji Yoko itu, membeberkan.
Apa yang dibeberkan Haji Yoko mengacu kepada Permendagri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dimana peraturan ini sedang dalam proses revisi untuk memungkinkan penggunaan dana APBD bagi kompetisi sepak bola amatir dan sekolah.
Bahkan dari perkembangan terbaru, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, telah mengumumkan bahwa klub Liga 3 dan Liga 4 dapat menggunakan dana APBD mulai musim 2025-2026. Sebaliknya klub Liga 1 dan Liga 2 tidak diperbolehkan menggunakan APBD karena sudah termasuk kategori profesional dan tunduk pada regulasi club licensing internasional.
Kebijakan dari Permendagri itu sendiri bertujuan sama dengan yang dimaksud dan tujuan dari EPA, yakni mendorong pertumbuhan sepak bola dari akar rumput, khususnya di daerah-daerah yang kesulitan finansial serta menciptakan ekosistem sepak bola yang sehat dan merata, dengan fokus pada pembinaan komunitas di akar rumput.
“Jadi, jika mengacu ke Permendagri, sekali lagi, bagusnya ada Liga Amatir U-20 karena U-20 sudah masuk level senior. Jadi di EPA ditiadakan dan Liga Amatir bukan Antarklub tetapi Antaraskot/Askab yang selanjutnya naik menjadi Antarprovinsi nantinya. Apa manfaatnya, agar pemain yang bagus tetapi tidak punya uang, pemain yang sebelumnya tidak tahu jalan dari ujung Majalengka sampai Pangandaran jadi bisa terjaring jika Liga Amatir U-20 diselenggarakan di daerah-daerah,” ujarnya menambahkan.
Haji Yoko optimistis, melalui Liga Amatir U-20 di setiap Askot/Askab pemain-pemain muda berbakat bakal bermunculan bahkan semarak karena Askot/Askabnya mengadakan kompetisi intern dengan titel tergantung atmosfer di daerahnya masing-masing.
“Kalau itu digelar saya yakin pasti ramai, karena disitu akan ada kumpulan – kumpulan pemain terbaik, pasti bakal ditonton dan pasti menjadi buruan untuk mencari pemain. Nah dari situlah semua Askot/Askab, harus menerjunkan para talent scoutingnya. Yang terbaik se-Jawa Barat misalnya dari hasil Liga Amatir U-20 antarAskot/Askab dipertemukan dengan yang terbaik dari provinsi lain dalam pertandingan antarprovinsi,” kata Haji Yoko menjelaskan.
Ide tersebut menurutnya, muncul atas keprihatinannya yang terjadi di EPA selama tiga tahun terakhir. “Setelah saya perhatikan, setiap klub Liga 1 ogah-ogahan bahkan ada yang tidak mau membentuk yang namanya tim untuk EPA. Termasuk rumornya Liga 2 menolak untuk gelar U-20. Termasuk klub-klub Liga 1 pun tak sedikit yang tidak siap untuk EPA U-20. Yang pada akhirnya dampak U-16, U-18, U-20 diserahkan ke EO (even organizer) atau ke salah satu akademi, oleh akademi seleksi harus bayar dan pemain yang direkrutnya yang mampu membayar. Ini kan pengaruh, dan seperti apa kualitasnya,” ia membeberkan lagi.
Haji Yoko berharap sekali, PSSI Pusat dan PT LIB mengkaji ulang untuk pelaksanaan EPA U-20. Dari hasil Liga Amatir katanya menegaskan lagi, pemain dan yang terbaik selanjutnya disatukan mewakili Asprov-nya masing-masing untuk terjun di tingkat nasional.
“Saya punya keyakinan, pasti bakal banyak bermunculan pemain-pemain bagus. Yang sekarang tidak tahu alurnya untuk menjadi pemain nasional melalui Liga Amatir menjadi tahu, dan terpantau. Kalau ini jadi digelar pasti akan menjadi kompetisi yang didalamnya kumpulan terbaik, bakal ramai, tinggal sistem nasionalnya yang bagus. Saya menyarankan, hanya sebagai bentuk kepedulian bagi kemajuan sepakbola kita, karena selama ini saya mengamati banyak pemain-pemain di daerah yang bagus tetapi kehilangan arah. Kalau Askot/Askab yang mengadakan kompetisi U-20 pastinya mudah memilih yang terbaik untuk kejuaraan tingkat Asprov se-Indonesiam jangan seperti sekarang, ada EPA tapi pemain harus bayar untuk jadi main di klub, akhirnya pemain yang bagus tidak bisa ikut,” kata Haji Yoko memungkasi.***
